26/11/2009

Jamsostek di Antara Layanan dan Harapan

KEPESERTAAN Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) setiap tahunnya mengalami penambahan yang signifikan. Seperti dikatakan Dirut PT Jamsostek, Hotbonar Sinaga bahwa jumlah kepesertaan Jamsostek aktif maupun yang pasif (per Agustus 2009) mencapai 27.900.000 jiwa dari 191.700 perusahaan. Berarti ada peningkatan 1.200.000 peserta dibanding tahun sebelumnya (tahun lalu pada periode sama sebesar 26.700.000 jiwa dari 175.800 perusahaan).
Ini berarti upaya sosialisasi Jamsostek dalam merekrut kepesertaan boleh dibilang berhasil. Tetapi, keberhasilan tersebut harus diikuti dengan pelayan optimal dan penerapan kejujuran. Karena pelayanan optimal yang ditopang kejujuran akan melanggengkan kepesertaan.
Selain itu, Jamsostek juga ditutut sejauh mana mengemas dirinya agar menjadi primadona, sehingga peserta akan selalu eksis dan tetap aktif mengikuti program yang ditawarkan Jamsostek, yakni program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kematian (JKM) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK).
Namun, yang menjadi masalah, apakah pelayanan yang dilakukan Jamsostek selama ini sudah optimal? Apakah Jamsostek sudah memenuhi hak dan kewajiban serta harapan para peserta?

Jamsostek dan Tenaga Kerja
Jamsostek merupakan program publik yang memberikan perlindungan bagi tenaga kerja untuk mengatasi risiko sosial ekonomi tertentu dan penyelenggaraannya menggunakan mekanisme asuransi sosial. Sebagai Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang asuransi sosial, PT Jamsostek (Persero) merupakan pelaksana undang-undang jaminan sosial tenaga kerja.
Direktur Utama Jamsostek, Hotbonar Sinaga mengatakan sebagai program publik Jamsostek memberikan hak dan membebani kewajiban secara pasti bagi pengusaha dan tenaga kerja berdasarkan Undang-undang No.3 tahun 1992 yang mengatur jenis program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kematian (JKM) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK), sedangkan kewajiban peserta adalah tertib administrasi dan membayar iuran.
Namun, UU Nomor 3 tahun 1992 ini belum diterapkan secara baik. Akibatnya jutaan tenaga kerja belum mendapat perlindungan dasar. Ancaman penjara maksimal enam bulan atau denda maksimal Rp50 juta bagi perusahaan yang melanggarpun hanya gertak sambal, tidak ada realisasinya. Di satu sisi pengawasan tidak berjalan sebagaimana mestinya dan di sisi lain tenaga kerja tidak berani frontal menuntut haknya, karena sering kalah oleh kekuasaan pengusaha.
Kewajiban menyertakan pekerja sebagai peserta Jamsostek cenderung disikapi sebagai beban biaya bagi perusahaan. Karena itu, banyak perusahaan yang menyertakan sebagian pekarjanya dalam program Jamsostek, atau malah tidak menyertakan mereka sama sekali.
Supaya terlihat mematuhi UU, sebagian perusahaan melaporkan gaji karyawan belih rendah dari yang sebenarnya, sehingga iuran yang dibayar pun lebih rendah pula. Cara-cara ini sangat merugikan pekerja.
Praktik seperti itu bisa berjalan lancar karena lemahnya pengawasan pemerintah dan ketidaktahuan buruh atas hak-hak dasarnya. Padahal, dalam BAB VII Pasal 29 UU Jamsostek, tindakan perusahaan itu tergolong tindakan pidana, dan diancam sanksi hukuman penjara maksimal enam bulan atau denda maksimal Rp50 juta.
Ironisnya, semua ancaman itu belum terlaksana, karena pengawasan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Terbukti, tidak ada pengusaha yang diseret ke pengadilan karena melanggar UU Jamsostek, meskipun secara kasat mata banyak sekali terjadi pelanggaran UU No.3 Tahun 1992 itu. Lemahnya sanksi terhadap para pelanggar Undang-Undang tersebut memberi kesuburan bagi pengusaha untuk tidak mengikuti program Jamsostek. Semua itu pada akhirnya akan merugikan para pekerja.
Hotbonar Sinaga mengakui bahwa sosialisasi Jamsostek selama ini belum menyentuh langsung ke basis pekerja, melainkan lebih tertuju pada pengusaha. Oleh karena itu, dia berjanji masa mendatang PT Jamsostek akan mengaktifkan sosialisasi kepada pekerja. Lambannya pelaksanaan sosialisasi kepada pekerja ini mengakibatkan posisi pekerja semakin terjepit. Tidak heran jika para pekerja yang telah terdaftar sebagai peserta pun banyak yang belum mengerti hak dan kewajibannya sebagai peserta Jamsostek, sehingga mereka tidak mengetahui bagaimana mengurus jaminan kecelakaan atau hak lainnya yang terjadi pada diri dan keluarganya.

Pelayanan dan Harapan
Tenaga kerja itu adalah set. Sebagai aset mereka harus diperhatikan, baik kesehatan maupun keselamatannya. Dengan adanya jaminan keselamatan dan kesehatan bagi pekerja, niscaya akan tercipta suasana aman dan kenyamanan dalam bekerja. Hal ini akan berpengaruh besar terhadap peningkatan produktivitas kerja karyawan maupun peningkatan produksi perusahaan masa mendatang.

Untuk membenahi ketimpangan yang terjadi di lapangan, maka yang perlu dilakukan pihak Jamsostek selalu memberikan sosialisasi tentang program-program unggulannya kepada para pengusaha, diikuti sosialisasi kepada para pekerja, sehingga keduanya mengerti dan ada kesepahaman, apa hak dan kewajiban pengusaha dan apa pula hak dan kewajiban pekerja.
Untuk menjaga kredibilitas dan peningkatan kualitas serta kepercayaan pekerja kepada Jamsostek, ada beberapa terobosan yang bisa dilakukan Jamsostek dalam rangka sosialisasi kepada pesertanya. Pertama, menempatkan petugas Jamsostek di rumah-rumah sakit (custemer service) yang bukan hanya memeriksa kelengkapan berkas untuk diurus ke kantor Jmasostek, tetapi juga dapat menempatkan pesertanya mendapat jaminan rawat inap atau tidak. Begitu pula ketika pasien akan pulang dari rumah sakit cukup mengurus di rumah sakit tersebut. Hal ini akan memudahkan peserta Jamsostek dalam mengurus jaminan sosialnya.
Kedua, petugas Jamsostek menyempatkan untuk mengunjungi atau menjenguk pekerja peserta Jamsostek atau keluarganya yang tengah dirawat di rumah sakit, sekaligus memberikan support penuh kepada pasien sehingga cepat pulih dan sembuh dari penyakit. Ini merupakan bagian dari layanan yang sangat diharapkan para peserta.
Ketiga, petugas Jamsostek secara tim melakukan jemput bola, mengunjungi perusahaan-perusahaan untuk melihat dan memberikan sosialisasi langsung kepada pengusaha dan peserta Jamsostek. Bagi peserta, kunjungan ini dapat meningkatkan kepercayaan kepada Jamsostek, sedangkan bagi yang belum menjadi peserta bisa langsung didaftarkan dan dibuatkan kartu Jamsostek dengan persetujuan pengusaha tempat buruh bekerja.

Membuang image negatif
Setiap tenaga kerja seharusnya memperoleh berbagai perlindungan maupun jaminan, baik jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan kematian (meninggal dunia) maupun jaminan pemeliharaan kesehatan. Apabila setiap tenaga kerja sudah memperoleh jaminan tersebut, maka produktivitas kerja mereka pun akan semakin meningkat.
Peningkatan layanan yang dilakukan PT Jamsostek terhadap para pekerja peserta Jamsostek lambat laun dapat menghilangkan image negatif yang selama ini bertumpu pada Jamsostek.
Apa pun yang dilakukan pihak Jamsostek demi peningkatan aset BUMN yang bergerak di bidang asuransi sosial ini sebaiknya kita serahkan kepada PT Jamsostek untuk mengelolanya. Namun yang perlu dicatat bahwa dana iuran peserta tidak akan berkurang bahkan jaminan hari tua (JHT) nya bertambah besar, lebih besar dari bunga bank. (Penulis adalah wartawan Harian Pelita)

(Sidik M Nasir)
hari
0
0
0
jam
0
0
menit
0
0
detik
0
0
Temukan Kemudahan Di
BPJS Ketenagakerjaan