19/11/2009

Jamsostek: Jembatan Kesejahteraan Pekerja dan Pengusaha

, Neraca Kamis, 19 November 2009 -

Hubungan pengusaha dan pekerja selama ini dalam banyak hal selalu diposisikan saling berhadapan, bak "Tom and Jerry" dalam drama hubungan pengusaha-pekerja yang tak pernah akur. Memang hampir menjadi suatu hal yang muskil, pekerja dan pengusaha saling bergandengan tangan tanpa adu urat syaraf saling mempertahankan kepentingan masing-masing baik itu soal upah atau soal lembur.

Namun, hal muskil ini ternyata bisa terjadi, pekerja dan pengusaha bergandengan tangan dengan dijembatani oleh jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek). Jamsostek menjadi titik temu kepentingan pekerja dan pengusaha.

Jamsostek memberikan perlindungan dan santunan kepada pekerja yang menjadi peserta Jamsostek. Jamsostek juga membantu meringankan beban pengusaha untuk memberikan perlindungan dan santunan kepada pekerjanya.

Membantu Pekerja dan Pengusaha "Saya sangat terbantu dengan adanya Jamsostek," beberapa patah kata yang terucap dari bibir Herlina Jeanny (29) saat mendapat kepastian klaim dari Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) sudah cair, tinggal menunggu waktu untuk sampai ke tangannya.

Ibu tiga anak yang bekerja di sebuah perusahaan alih daya ("outsourcing") di Kota Semarang ini mengaku mengalami kecelakaan kerja, sehingga mengakibatkan ia mendapat perawatan di rumah sakit.

Herlina mendapatkan bantuan Jamsostek sesuai aturan yang berlaku yakni selain biaya perawatan juga mendapat santunan Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB) selama dirinya tidak masuk dikalikan upah per harinya.

Herlina tidak masuk selama 45 hari, sedangkan upahnya setiap hari Rp37.750, sehingga uang STMB-nya sebesar Rp1,6 juta. Jika ditambah dengan uang perawatan selama di rumah sakit sebesar Rp4,9 juta maka total uang pengganti yang ia dapat Rp6,6 juta.

Mendapat uang penggantian tersebut, Herlina merasa sangat bersyukur. "Setahu saya, penggantian uang dari Jamsostek untuk perawatan di rumah sakit saja. Ini malah saya dapat uang santunan selama saya tidak bekerja," katanya senang.

Untuk pencairan klaim ke Jamsostek, Herlina mengaku dibantu oleh pihak perusahaan. Hendro Setiawan, kepala cabang perusahaan alih daya tempat Herlina bekerja menjelaskan bahwa pihaknya membantu pekerja yang mengalami kecelakaan kerja untuk mendapatkan haknya.

"Tidak hanya Herlina yang mendapat bantuan dari Jamsostek, akan tetapi semua anak buah akan mendapatkan santunan Jamsostek jika mengalami kecelakaan kerja karena kita bekerjasama dengan Jamsostek," katanya.

Hendro mengaku, perusahaannya merasa terbantu dengan adanya santunan dan biaya pengganti perawatan dari Jamsostek untuk anak buahnya.

Pemberian bantuan Jamsostek kepada Herlina, merupakan bagian contoh bagaimana pekerja dan perusahaan bisa saling membantu untuk pemenuhan hak pekerja yang mengalami kecelakaan kerja yang sama-sama tidak menginginkan terjadi.

Pekerja kooperatif mengupayakan syarat yang harus dipenuhi, sedangkan perusahaan aktif mengupayakan pencairan klaim dari pekerja, merupakan sebuah hubungan mutualisme yang perlu dikembangkan.

Memberikan Banyak Layanan Kepala Cabang PT Jamsostek Kota Semarang Firman Ardi menjelaskan, sebagai program publik, Jamsostek memberikan hak disamping membebani dengan kewajiban sesuai UU Nomor 3 Tahun 1992 Tentang Jamsostek.

Sejumlah program Jamsostek, lanjut Friman yakni, program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kematian (JKM) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK), sedangkan kewajiban peserta adalah tertib administrasi dan membayar iuran.

Firman mengatakan, untuk pemberian hak misalnya jaminan kecelakaan kerja biasanya dari pihak perusahaan yang bergerak dan dapat juga dari PT Jamsostek yang mendatangi menyerahkan pencairan klaim tersebut.

Pemberian pencairan klaim dari PT Jamsostek yang langsung ke rumah penerima, misalnya akan diberikan kepada keluarga korban meninggal dunia Murtini, warga Desa Turirejo, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.

Murtini sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan di Kota Semarang dan mengalami kecelakaan kerja saat mau berangkat kerja ditabrak mobil.

Pihak keluarga akan mendapatkan bantuan dari Jamsostek sebesar Rp42.376.000, berdasarkan gaji setiap bulannya Rp840 ribu.

Ia menjelaskan, masyarakat baik itu pekerja maupun pengusaha di Kota Semarang termasuk kategori yang telah mengerti arti penting Jamsostek.

Hal tersebut, dapat dilihat dari tingginya masyarakat yang membayar iuran atau mengajukan dan mencairkan klaim.

"Sehari yang datang ke kantor Jamsostek bisa mencapai 500 hingga 600 orang dan dalam waktu sehari juga kami bisa mengeluarkan Rp1 miliar untuk pencairan klaim," katanya.

Permintaan pencairan klaim yang cukup tinggi tersebut menjadikan PT Jamsostek selalu siap sedia dengan berapa pun nominal yang harus dicairkan pada hari itu, termasuk jika terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal disuatu perusahaan.

"Di sini, ada bank sehingga bisa dengan cepat untuk mencairkan cek. Jadi tidak perlu khawatir. Kita akan selalu siap dana," katanya.

Tidak hanya masalah hak dan kewajiban membayar iuran, lanjut Firman, PT Jamsostek juga memberikan pelayanan kepada peserta Jamsostek mendapatkan beasiswa dan Pinjaman Uang Muka Perumahan (PUMP).

"Beasiswa diberikan kepada anak pegawai teladan, sedangkan PUMP yang diberikan kepada tenaga kerja sebagai pinjaman sebagian uang muka perumahan melalui fasilitas KPR dari perbankan," kata Firman.

PUMP akan diberikan kepada tenaga kerja yang telah memenuhi persyaratan dengan jumlah maksimal yaitu sebesar Rp7,5 juta per orang dan sewaktu-waktu dapat ditingkatkan dengan tingkat suku bunga tiga persen pertahun, yang diberlakukan flat.

Jangka waktu PUMP maksimal 5 tahun dan tipe rumah yang mendapat dukungan PUMP-Jamsostek maksimal sampai dengan rumah sederhana (RS/T36).

Masyarakat Semakin Paham Di Kota Semarang, jumlah pekerja yang terdaftar menjadi peserta Jamsostek sebanyak 157.844 tenaga kerja dengan jumlah 1.870 perusahaan.

Jumlah peserta tersebut terbagi dalam peserta aktif dan peserta nonaktif. Bagi peserta aktif yakni, mereka yang masih bekerja dan akan mendapat jaminan kecelakaan.

Sementara peserta nonaktif adalah yang sudah tidak bekerja dan belum berhenti tabungannya dan PT Jamsostek masih memberikan bantuan selama masa tunggu enam bulan jika meninggal dunia, namun tidak ada jaminan kecelakaan.

Saat ini, jumlah klaim yang harus dikeluarkan oleh PT Jamsostek Semarang setiap harinya berkisar Rp600 juta dan akan ramai oleh peserta Jamsostek yang mengambil jaminan hari tua (JHT) pada minggu pertama awal bulan.

"Bagi perusahaan yang memiliki pekerja lebih dari 10 orang atau gajinya lebih dari Rp1 juta, maka wajib menjadi peserta Jamsostek," kata Firman.

Berdasarkan UU Nomor 3 Tahun 1992 Tentang Jamsostek diatur bahwa perusahaan yang sampai tiga kali ditegur oleh Dinas Tenaga Kerja tidak masuk dalam keikutsertaan sebagai peserta Jamsostek, akan mendapat denda Rp100 juta.

Soal pengaduan dari masyarakat terhadap Jamsostek, Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K), Ngargono mengatakan, sampai saat ini pihakya belum pernah mendapat aduan dari masyarakat yang berkaitan dengan pelayanan Jamsostek.

"Kami tidak pernah mendapat aduan dari masyarakat," katanya. Ngargono mengatakan, Jamsostek sistem kerjanya hampir sama dengan asuransi yang prinsipnya untuk memberikan pelayanan saat dibutuhkan.

Hal pokok yang perlu mendapat tekanan adalah, lanjut Ngargono, peserta Jamsostek mendapat pelayanan sama dengan mereka yang non-Jamsostek.

"Jangan sampai, ada konsumen yang dinomorduakan karena menggunakan fasilitas Jamsostek dan kami siap memberikan pendampingan jika hal tersebut terjadi. Namun, sampai saat ini belum ada aduan," katanya. x

(Nur Istibsaroh)
hari
0
0
0
jam
0
0
menit
0
0
detik
0
0
Temukan Kemudahan Di
BPJS Ketenagakerjaan