04/11/2009

Asuransi Kesehatan Minim Produk Managed Care

, Bisnis Indonesia, Rabu 4 November 2009 -

JAKARTA: Minat pemain asuransi kesehatan Tanah Air memasarkan managed care masih minim, meskipun produk itu menawarkan berbagai keunggulan dibandingkan dengan indemnity yang digunakan hampir seluruh perusahaan asuransi.

Direktur Teknik dan Operasional PT Asuransi Jiwa InHealth Indonesia Budi Tampubolon menyebutkan dengan managed care perusahaan asuransi bisa lebih mengontrol claim ratio asuransi kesehatan. Dampak untuk tertanggung, saat renewal pada tahun berikutnya kenaikan premi juga bisa lebih terkontrol.

"Jika semakin banyak perusahaan asuransi menggunakan managed care, akan ada peluang efisiensi dalam biaya kesehatan nasional," ujarnya dalam forum diskusi wartawan yang digelar PT Askes (Persero) di Jakarta, kemarin.

Managed care merupakan salah satu bentuk sistem asuransi kesehatan yang mengendalikan utilisasi dan biaya yang efisien melalui seleksi dan pengawasan penyedia jasa (provider). Produk lainnya yaitu indemnity, yang dibedakan dengan keleluasaan penggunaan plafon dana.

Dia menjelaskan pada beberapa perusahaan asuransi yang menjual indemnity claim ratio mendekati 100%. Bahkan jika tidak disiplin tak jarang yang melebihi 100% yang berarti merugi.

Dengan managed care, rasio klaim secara agregat di bawah 90%.

Budi mengatakan managed care membutuhkan jaringan pemberi pelayanan kesehatan yang diseleksi dengan baik dan selalu diawasi. Provider itu memastikan tidak terjadi fraud dan abused yang menyebabkan kebocoran biaya kesehatan dan perlakuan medis berlebihan terhadap pasien.

Meskipun lebih ketat kontrolnya dibandingkan dengan indemnity, managed care memberikan benefit tanpa batas. "Sepanjang mengikuti syarat berjenjang dan itu sesuai dengan kebutuhan medis tidak ada limit seperti halnya di indemnity. Jadi indemnity menawarkan keleluasaan tetapi tidak memberikan full protection," katanya.

Dia menambahkan dengan indemnity jika plafon biaya kesehatan peserta terlampaui, mereka harus menambah sendiri biayanya. "Pilihannya dua, kembali ke peserta atau ke perusahaan, dua-duanya tidak ideal. Manajemen perusahaan pasti tidak ingin ada fluktuasi biaya yang sudah dibujetkan awal tahun," ujarnya.

Dia mengatakan ada beberapa alasan mengapa perusahaan asuransi enggan berpindah dari indemnity. Selah satunya indemnity adalah produk komoditas yang hampir tidak ada perbedaan satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.

Perusahaan hanya perlu bersaing harga dengan pesaing untuk mendapatkan bisnis. "Di asuransi kesehatan belum ditetapkan cara penetapan tarif seperti di lini bisnis kendaraan bermotor," ujarnya.

Selain itu, menjadikan produk asuransi sebagai loss leader. Meskipun merugi di bisnis itu, perusahaan berharap mendapat bisnis sampingan dari perusahaan yang menjadi tertanggungnya, misalnya menutup risiko properti, kendaraan bermotor, pensiun, dan sebagainya.

Dirut Inhealth Rossa C.H. Ginting berharap semakin banyak pemain asuransi nasional yang menjual managed care. Dia mengatakan meski tidak bisa dihilangkan sama sekali, sistem itu mampu mengendalikan abused dan fraud.

(HANNA PRABANDARI)
hari
0
0
0
jam
0
0
menit
0
0
detik
0
0
Temukan Kemudahan Di
BPJS Ketenagakerjaan