29/06/2009

Iuran Jamsostek Indonesia Termurah di Dunia

, Berita Kota, Sabtu 27 Juni 2009 -

IURAN untuk perlindungan jaminan sosial tenaga kerja (Jamsostek) yang dipungut PT. Jamsostek (Persero), sebenarnya termurah se-dunia. Iuran Jamsostek yang dipungut di korea selatan, misalnya, nilainya mencapai sekitar 80% dari upah minimum regional (UMR) dan singapura 40%.

Bahkan, Iuran Jamsostek Indonesia masih lebih besar dari pungutan perlindungan jaminan kecelakaan kerja (JKK), jaminan kematian (JKM), jaminan hari tua (JHT), dan jaminan perlindungan kesehatan (JPK) di beberapa Negara termiskin Afrika, seperti Gabon, Senegal, dan lainnya.

“Anehnya, jumlah perusahaan yang memasukkan karyawannya sebagai peserta Jamsostek di Indonesia terhitung sangat kecil, disbanding Singapura, Malaysia, Korsel, dan beberapa Negara Afrika,” papar Direktur Operasional PT. Jamsostek Ahmad Ansyori, di sela acara breakfast meeting bertajuk “Hari Tua Siapa Takut?” di Jakarta, Jumat (26/6).

Dijelaskan, dari jumlah 111 juta pekerja formal di Indonesia, hanya sekitar 8,4 juta pekerjanya yang menjadi peserta Jamsostek. Dan dari ratusan pekerja informal yang menjadi peserta Jamsostek, hanya 32 juta yang menjadi peserta. Sementara di Singapura hapir semua pekerja sudah terlindungi Jamsostek. “di Korsel sekitar 99,8% sudah dilindungi JKK, JKM, JHT, dan JPK. Sementara di Malaysia sekitar 80% dari seluruh pekerja sudah dilindungi jamnan asuransi yang sama,” jelasnya.

Ansyori mengaku yakin, para pengusaha yang mempekerjakan lebih dari sepuluh orang karyawan (sebagai salah satu persyaratan bisa menjadi peserta Jamsostek), pasti tahu dan menyadari manfaatnya ikut Jamsostek. Karena selain sebagai proteksi atas musibah kecelakaan, kematian dan kesehatan, iuran Jamsostek pun meng-cover perlindungan JHT, misalnya, perusahaan setiap tahun harus mengeluarkan dana sekitar Rp 6 triliun. “Keengganan pemilik perusahaan untuk memasukkan karyawannya sebagai peserta Jamsostek, karena masih banyak pikiran di antara mereka, yang menganggap iuran itu sebagai ‘beban’ perusahaan,” katanya.

Padahal, lanjut Ansyori, mengikutkan karyawannya sebagai peserta adalah sebagai capital investasi. “Lihat misalnya kasus pekerja tambang di sawahlunto, sumbar. Karena perusahaan tak mengikutkan karyawannya sebagai peserta Jamsostek, pemilik perusahaan terpaksa harus mengeluarkan dana sekitar Rp 1,1 miliar untuk bantuan kematian para pekerja yang menjadi korban,” tegas Ansyori.   did

(did)
hari
0
0
0
jam
0
0
menit
0
0
detik
0
0
Temukan Kemudahan Di
BPJS Ketenagakerjaan