29/06/2009

Iuran dan Jumlah Kepesertaan Terendah di Dunia

, Suara Karya, Senin 29 Juni 2009 -

JAKARTA (Suara Karya): Jumlah kepesertaan pekerja dalam program jaminan sosial di Indonesia termasuk paling rendah di dunia. Begitu juga tingkat iuran kepesertaan dalam program jaminan sosial di Indonesia, tergolong terendah di dunia. Kenyataan ini membuktikan masih rendahnya kesadaran para pengusaha dan pekerja tentang manfaat atau pentingnya program jaminan sosial bagi tenaga kerja (Jamsostek).

Direktur Operasi dan Pelayanan PT Jamsostek (Persero) Ahmad Ansyori mengatakan, iuran Jamsostek di Korea Selatan mencapai sekitar 80 persen dari upah minimal, sehingga manfaat yang dirasakan optimal. Di Singapura iuran jaminan sosial mencapai 40 persen dan Malaysia 30 persen. Bahkan, iuran kepesertaan Jamsostek di Indonesia masih lebih rendah dibanding negara-negara miskin di Afrika, seperti Gabon, Senegal, dan lainnya.

Di Indonesia, PT Jamsostek (Persero) menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja (JKK), jaminan kematian (JKM), jaminan hari tua (JHT), dan jaminan pemeliharaan kesehatan (JPK) dengan total iuran tidak sampai 12 persen. "Parahnya, meski iuran rendah, jumlah perusahaan yang mengikutsertakan karyawannya sebagai peserta Jamsostek terhitung sangat kecil dibanding Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan lainnya," kata Ahmad Ansyori saat menjadi pembicara pada acara power breakfeast bertajuk "Hari Tua Siapa Takut?" di Jakarta, Jumat (26/6). Turut hadir sebagai pembicara ekonom Didik J Rachbini dan anggota DPRD DKI Jakarta (1009-2014) Wanda Hamidah.

Menurut dia, dari 40 juta pekerja formal (non-PNS dan TNI/Polri), hanya sekitar 8,4 juta pekerja yang aktif menjadi peserta Jamsostek. Sedangkan di Singapura, hampir semua pekerja sudah terlindungi program jaminan sosial. Di Korsel sekitar 99,8 persen dan Malaysia sekitar 80 persen.

Sebenarnya, lanjut Ansyori, para pengusaha memahami dan menyadari tentang manfaat kepesertaan Jamsostek. Selain memenuhi hak normatif pekerja berupa perlindungan terhadap segala risiko kerja, seperti kecelakaan, kesehatan yang berkurang, hari tua, manfaat kepesertaan juga menyangkut keluarga pekerja peserta.

"Keengganan pemilik perusahaan untuk mengikutsertakan karyawannya sebagai peserta Jamsostek karena menganggap sebagai beban biaya perusahaan. Padahal, kepesertaan Jamsostek wajib berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jamsostek dan merupakan bentuk perlindungan atas risiko kerja," tuturnya.

Seharusnya, keikutsertaan karyawan dalam program-program Jamsostek sebagai investasi dalam sumber daya manusia. Para pekerja akan merasa lebih tenang dalam bekerja saat mengetahui menjadi peserta Jamsostek dan mendorong peningkatan produktivitas. "Lihat saja kasus pekerja tambang di Sawahlunto, Sumatera Barat. Perusahaan terpaksa harus mengeluarkan dana besar untuk bantuan kepada pekerja ataupun keluarga yang menjadi korban," tuturnya.

((ANDRIAN))
hari
0
0
0
jam
0
0
menit
0
0
detik
0
0
Temukan Kemudahan Di
BPJS Ketenagakerjaan