30/12/2010

Perlindungan Maksimal Untuk Perlindungan Kerja

, Suara Karya -

 

Perlindungan terhadap risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja merupakan program tertua dan biasanya selalu ada dalam sistem jaminan sosial di hampir seluruh negara di dunia. Seperti diketahui, risiko kerja yang kerap dialami tenaga kerja meliputi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Perbedaan antara kedua jenis risiko akibat bekerja ini terletak pada waktu kejadiannya. Kecelakaan kerja merupakan peristiwa yang mendadak dan biasanya terjadi kekerasan terhadap struktur fisik/tubuh manusia. Seperti terkena benda keras, terpotong benda tajam, jatuh dari ketinggian, dan lainnya. Sedangkan risiko penyakit kerja timbul secara perlahan-lahan dan dapat memakan waktu 10 tahun hingga 20 tahun.

Namun dari sudut pandang program jaminan sosial, kedua risiko akibat bekerja ini mempunyai akibat yang sama, yaitu dapat menimbulkan cacat, kematian, dan perawatan. Selain itu, besaran santunan untuk kedua risiko akibat bekerja tersebut juga tergolong sama. Karena itu, biasanya dalam peraturan dan perundang-undangan mengenai santunan atas risiko akibat kerja. Ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk mempertegas kategori kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja juga diberlakukan sama.

Sepintas uraian di atas merupakan pengertian yang sama dari penyelenggaraan program jaminan sosial bagi tenaga kerja yang diselenggarakan PT Jamsostek (Persero) yang telah diatur melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992. Khususnya untuk program jaminan kecelakaan kerja (JKK). Dalam hal ini, pengertian kecelakaan kerja merupakan kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja. Demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.

 

Katagori Kecelakaan Kerja

Kecelakaan di tempat kerja. Kecelakaan yang terjadi pada saat tenaga kerja melaksanakan aktivitas kerja di tempat atau lokasi kerja.

Kecelakaan di luar tempat kerja. Kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan pergi dan pulang dari rumah menuju tempat kerja. Tentunya melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui. Termasuk sejak berada di jalan umum dan atau ke tempat lain yang berhubungan dengan hubungan kerja.

Penyakit akibat kerja (occupational disease). Ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja yang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 1993 disebut penyakit yang timbul akibat hubungan kerja. Sedangkan penyakit akibat hubungan kerja (work related disease) merupakan penyakit yang dicetuskan, dipermudah atau diperberat oleh pekerjaan.

l Meninggal dunia mendadak di tempat kerja. ini dapat dianggap sebagai kecelakaan kerja apabila tenaga kerja pada saat bekerja ditempat kerja tiba-tiba meninggal dunia tanpa melihat penyebab dari penyakit yang dideritanya. Atau tenaga kerja mendapat serangan penyakit di tempat kerja kemudian langsung dibawa ke dokter/unit pelayanan kesehatan atau rumah sakit dan tidak lebih dari 24 jam kemudian meninggal dunia.

Suatu kasus tidak termasuk atau tergolong meninggal mendadak apabila tenaga kerja mendapat serangan dari penyakit yang diderita di luar lokasi kerja. Seperti dalam perjalanan pulang dan pergi ke tempat kerja. Atau tenaga kerja yang mendapat serangan dari penyakit yang diderita di lokasi kerja kemudian di bawa pulang ke rumah.

l Hilang atau dianggap telah meninggal dunia. Tenaga kerja dinyatakan hilang atau dianggap meninggal dunia apabila tenaga kerja pada saat melaksanakan aktivitas kerja, karena sesuatu sebab, dinyatakan hilang atau dianggap telah meninggal dunia. Suatu kasus kecelakaan kerja, di mana seorang dinyatakan hilang atau dianggap telah meninggal dunia ini harus didukung dengan surat keterangan resmi. Surat terkait memuat kronologis kejadian dari perusahaan yang bersangkutan. Selain itu juga surat keterangan dari kelurahan/kepala desa, keterangan dari Kepolisian atau dari Syahbandar (hilang di laut), keterangan Basarnas (Badan Search and Rescue Nasional) terkait bencana.

 

Akibat Kecelakaan Kerja

Tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja dapat juga sembuh dari penyakit atau Cacat yang mengakibatkan hilang atau berkurangnya fungsi anggota badan. Ini secara langsung atau tidak langsung sebelumnya mengakibatkan hilang atau berkurangnya kemampuan untuk menjalankan pekerjaan.

Sedangkan cacat dapat dikategorikan ke dalam sejumlah spesifikasi. Pertama, cacat anatomi merupakan hilangnya anggota badan atau sebagian anggota badan. Kedua, cacat fungsi yang merupakan berkurangnya fungsi anggota badan. Selanjutnya cacat total tetap jika akibat kecelakaan kerja, baik fisik maupun mental, tenaga kerja selamanya tidak dapat mengerjakan suatu pekerjaan dan memerlukan bantuan orang lain. Jumlah persentase cacat yang masuk spesifikasi ini minimal 70 persen.

Sementara penyakit yang timbul karena hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja. Setiap tenaga kerja yang menderita penyakit yang timbul karena hubungan kerja berhak mendapatkan jaminan kecelakaan kerja, baik pada saat masih dalam hubungan kerja maupun setelah hubungan kerja berakhir. Jadi apabila menurut hasil diagnosis dokter yang merawat penyakit tersebut diakibatkan oleh pekerjaan selama tenaga kerja yang bersangkutan masih dalam hubungan kerja. Paling lama 3 tahun terhitung sejak hubungan kerja tersebut berakhir.

Jaminan Kecelakaan Kerja

Jaminan ini memberikan kompensasi dan rehabilitasi bagi tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja pada saat berangkat kerja, di tempat kerja sampai tiba kembali ke rumah serta yang menderita penyakit akibat hubungan kerja. Tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja berhak atas jaminan berupa pergantian biaya.

Untuk tahap awal, jaminan meliputi biaya pengangkutan tenaga kerja yang mengalami kecelakaan dari tempat kejadian ke rumah sakit atau rumahnya. Selain itu biaya pengobatan dan perawatan terdiri atas biaya dokter, obat, operasi, rontgen, laboratorium, perawatan puskesmas/RSUP klasik/swasta yang setara atau jasa tabib/sinse/tradisional yang telah mendapat ijin resmi dari instansi yang berwenang.

Selanjutnya ada jaminan berupa santunan untuk biaya rehabilitasi. Ini bisa berupa alat bantu (orthose) dan alat ganti (prothese) bagi tenaga kerja yang anggota badannya hilang atau tidak berfungsi akibat kecelakaan kerja. Selain itu juga rehabilitasi medik untuk dapat mengembalikan fungsi tubuh yang mengalami kecacatan.

 

Fluktuatif

Jumlah kasus kecelakaan kerja dalam 10 tahun terakhir berfluktuasi. Tampaknya ini juga sejalan dengan jumlah peserta aktif yang juga bersifat fluktuatif. Pada 2010 (hingga November) terjadi 86.692 kasus kecelakaan kerja dengan rata-rata lebih dari 237 kasus setiap hari. Jumlah ini turun 11 persen dibanding 2009 dengan 96.315 kasus dan rata-rata ada 263 kasus kecelakaan kerja setiap harinya.

Dari kasus kecelakaan kerja yang diklaim pada 2010, sebesar 90,81 persen korban kecelakaan kembali sembuh dan 4 persen korban mengalami cacat fungsi. Sementara 3 persen mengalami cacat sebagian dan 0,04 persen mengalami cacat total serta 2,15 persen korban meninggal dunia.

Dari total kasus kecelekaan kerja tahun 2010 ini, sebanyak 6.005 tenaga kerja mengalami cacat dan rata-rata dalam satu hari kerja lebih dari 16 TK mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cacat. Dari total kecelakaan kerja tahun 2010, sebanyak 1.965 kasus dia ntaranya menyebabkan meninggal dengan rata-rata setiap hari kerja terjadi hampir 5 kasus meninggal dunia akibat kecelakaan kerja. Pada tahun 2010 ini (hingga November), pembayaran santunan JKK oleh PT Jamsostek (Persero) sebanyak 86.692 kasus dengan nilai sebesar Rp 358,458 miliar.

Sebanyak 40,04 persen dari pembayaran JKK tahun 2010 ini diberikan untuk penggantian pengobatan dan perawatan dengan rata-rata tiap kasus sebesar Rp 940.896,00. Rata-rata biaya penggantian pengobatan dan perawatan ini masih jauh dari biaya maksimal, yaitu Rp 12 juta.

Proporsi lainnya dari pembayaran JKK adalah santunan kematian sebesar Rp 38,32 persen. Disusul dengan santunan untuk cacat sebesar 10,99 persen, santunan STMB sebesar 6,16 persen serta sisanya digunakan untuk biaya transportasi, uang penguburan, dan penggantian orthose/prothese (alat bantu dan ganti untuk korban cacat). ***

hari
0
0
0
jam
0
0
menit
0
0
detik
0
0
Temukan Kemudahan Di
BPJS Ketenagakerjaan