12/10/2010

Jamsostek Fasilitasi UM Rumah

, Warta Kota - PERTUMBUHAN properti tak pernah henti hingga saat ini. Akan tetapi, khusus perumahan, banyak masyarakat kelas menengah ke bawah yang sulit membeli rumah karena harga dan cicilan yang sulit diimbangi dengan gaji.

MASALAH itu coba dijembatani oleh PT Jamsostek. Perusahaan itu memiliki program Pinjaman Uang Muka Perumahan (PUMP) yang memberikan pinjaman sebagian uang muka (UM) perumahan bagi tenaga kerja peserta Jamsostek sebesar Rp 20 juta sekaligus hibah uang administrasi Rp 500.000. Namun fasilitas ini belum banyak dimanfaatkan oleh tenaga koja alias buruh kerah biru.

PUMP merupakan salah satu program Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP) yang memberikan pinjaman uang muka Kredit Perumahan Rakyat (KPR) perbankan kepada tenaga kerja peserta Jamsostek. Program PUMP ini dilansir pada tahun 2003.

Setiap peserta Jamsostek, asal memenuhi syarat bisa memperoleh dana maksimal Rp 20 juta untuk jangka waktu 5 hingga 10 tahun. Tipe rumah yang mendapat dukungan maksimal rumah sederhana tipe 36 (RS/T36). Tingkat suku bunga yang dikenakan pun sangat ringan, yaitu tiga persen yang diberlakukan flat atau efektif 6 persen pertahun.

Selain PUMP. Jamsostek juga baru saja menawarkan pinjaman renovasi rumah kerja sama bank (PRR-KB). Menggandeng Bank Tabungan Negara (BTN) dalam kerja sama, Jamsostek memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh pinjaman malea mal Rp 30 juta dengan bunga dan jangka waktu yang sama seperti PUMP.

Menurut Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga, hingga Juni 2010. Jamsostek telah mengucurkan dana PUMP sebesar Rp 557.7 miliar. Dana sebesar itu mengalir4r 74.051 tenaga kerja di seluruh Indonesia, yang sebagian besar adalah buruh pada sektor manufaktur. "Dana PUMP ini memang diperuntukan bagi buruh kerah biru,"katanya.

Untuk meminimalisasi risiko tingginya tingkat tunggakan kredit (NPL). Jamsostek bekerja sama dengan sejumlah bank dalam penyalurannva. di antaranya ialah Bank Tabungan Negara (BTN). Bank Syariah Mandiri (BSM), dan Bank DKI. dan BPD Ball Namun sekitar 50 persen kredit masih ditangani BTN.

"Duhi analisis kelayakan kredit dilakukan Jamsostek, tapi sekarang dilakukan langsung pihak bank guna mengurangi kredit bermasalah alias NPL." kata Hotbonar.

Menurun

Pada September 2010. PT Jamsostek menargetkan penyaluran dana PUMP sepanjangtahun 2010 sebesar Rp 105 miliar. Ini berarti target penyaluran dana PUMP naik 3.6 persen dibandingkan target tahun lalu yang tercatat Rp 101.35 miliar.

Namun, hingga Juni 2010 realisasi penyalurannya baru mencapai Rp 50.36 miliar atau menurun tipis dari periode yang sama tahun lalu, yakni Rp 50.4 miliar. Menurunnya penyaluran dana PUMP ini terjadi di hampir semua kantor cabang Jamsostek.

Di lingkungan Kantor Wilayah (Kanwil) PT Jamsostek Jabar Banten, misalnya, hingga Juli 2010. penyaluran dana PUMP baru mencapai Rp 12 miliar Padahal total dana yang disiapkan Kanwil Jamsostek Jabar Banten untuk program ini selama tahun 2010 mencapai Rp 30 miliar.

Kepala Kanwil FT Jamsostek Jabar Banten. Dyas Lubis, mengakui kurangnya penyerapan dana PUMP karena terjadinya perubahan proses pengucurannya, yang semula langsung dilakukan oleh Jamsostek kepada peserta yang ingin menggunakan dana PUMP, kini dilakukan melalui bank.

Senada dengan Hotbonar. Dyas Lubis juga memaparkan, sistem penyaluran melalui bank dilakukan karena di wilayah kerjanya tingkat NPL dari program ini sangat tinggi yakni mencapai 50 persen. Tingginya NPL ini dikhawatirkan berdampak buruk bagi perusahaan dan peserta yang mengambil dana PUMP.

Untuk sementara kerja sama bank (KB) ini menimbulkan dampak positif sekaligus negatif. Positifnya. NPL program PUMP-KB menurun. Namun negatifnya, penyerapan dana uang muka perumahan menjadi lebih kecil.

"Bank yang bekerja sama dengan Jamsostek menerapkan sistem kehati-hatian, termasuk melakukan BI Checking, yakni penelusuran calon penerima dana melalui Bank Indonesia. Jika syarat yang ditentukan layak, maka dana bisa dicairkan." tutur Dyas Lubis.

Di atas UMK

Kendala yang dianggap memberatkan antara lain syarat minimal gaji. Peserta vang ingin memanfaatkan PUMP harus memiliki upah atau gaji di atas upah minimum kota/kabupaten (UMK). Selain itu masih ada biaya administrasi vang harus ditanggung peserta sebesar Rp 500.000. Namun kini Jamsostek memberikan hibah nang administrasi perumahan sebesar Rp 500.000.

Hotbonar Sinaga menambahkan, penyebab utama lambatnya penyaluran dana PUMP Ialah minimnya promosi dan sosialisasi. Karena itu kalau semula promosi dan sosialisasi hanya dilakukan dengan perusahaan dan serikat pekerja, maka tahun ini pihaknya akan lebih gencar melakukannya lewat media massa dan rajin mengikuti pameran properti.

Dyas Lubis juga menunjukkan adanya wilayah yang mampu melampui target penyerapan dana PUMP ini. Wilayah Cimahi, misalnya, penyaluran dana PUMP yang mampu melebihi target "Jadi sebenarnya tergantung kreativitas cabang." ujar Dyas.

Promosi dan sosialiasi tentang dana PUMP harus semakin gencar dan semakin banyak agar masyarakat bisa memperoleh informasi lebih banyak, sehingga para tenaga kerja peserta Jamsostek yang memenuhi syarat dapat memafaatkan dana PUMP secara maksimal, (wip)

hari
0
0
0
jam
0
0
menit
0
0
detik
0
0
Temukan Kemudahan Di
BPJS Ketenagakerjaan