28/09/2010

Jamsostek Inventarisasi JHT Peserta Nonaktif

JAKARTA (Suara Karya): Tenaga kerja yang pernah menjadi peserta jaminan sosial selama lima tahun lebih atau kini sudah berumur 55 tahun diimbau untuk melapor ke kantor cabang PT Jamsostek (Persero) terdekat, di antaranya terkait masalah pencairan dana jaminan hari tua (JHT).

Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan, saat ini sedang dilakukan inventarisasi jumlah riil tenaga kerja yang terdaftar menjadi peserta Jamsostek. Dalam hal ini, sedang dihitung peserta yang masih aktif maupun tidak lagi aktif dari nama-nama yang sudah tercatat di Jamsostek. Berdasarkan inventarisasi awal, terdapat dana JHT yang sudah bisa dicairkan (5 tahun plus 1 bulan/peserta umur 55 tahun), namun belum diproses oleh peserta bersangkutan.

"Bagi peserta yang kini tidak aktif lagi membayar iuran atau tidak lagi menjadi peserta (nonaktif), kami harapkan segera melapor ke kantor cabang Jamsostek terdekat. Siapa tahu dana JHT-nya sudah bisa dicairkan," katanya dalam keterangan persnya di Jakarta, kemarin.

Turut mendampingi Direktur Umum dan SDM Jamsostek Djoko Sungkono, Direktur Investasi Jamsostek Elvyn G Masassya, Direktur Perencanaa, Pengembangan, dan Informasi Jamsostek HD Suyono, serta Komisaris Jamsostek Sjukur Sarto. Juga hadir Kepala Biro Humas Jamsostek M Sarjan Lubis. Menurut dia, peserta nonaktif, khususnya dalam program JHT (bersifat tabungan), masih memiliki rekening dengan saldo nilai tertentu di Jamsostek. Namun, hingga saat ini pekerja bersangkutan belum mencairkan dana JHT-nya meski sudah memenuhi persyaratan.

Terdapat sejumlah penyebab peserta menjadi nonaktif dan belum mencairkan dana JHT-nya, di antaranya pekerja bersangkutan tidak mengetahui pernah terdaftar sebagai peserta Jamsostek (JHT) oleh perusahaan/majikannya.

Selain itu, peserta tersebut tidak memegang kartu peserta Jamsostek (KPJ) karena ditahan pihak perusahaan sampai tidak bekerja lagi. Bisa juga KPJ-nya hilang dan peserta tidak memedulikannya, atau pindah ke perusahaan baru yang bukan peserta Jamsostek (tidak mengikutsertakan pekerjanya dalam program Jamsostek).

"Ada juga peserta yang memiliki lebih dari satu KPJ tanpa menyadarinya. Ini bisa terjadi karena pindah kerja, namun tidak melaporkan kepesertaan Jamsosteknya ke perusahaan baru. Sedikitnya 3,3 juta peserta Jamsostek memiliki kartu kepesertaan ganda. Ini menyebabkan kenapa masih banyak peserta yang belum mencairkan dana JHT meski sudah tidak bekerja dan sudah pensiun," tutur Hotbonar.

Dari jumlah peserta nonaktif yang sudah terdata, termasuk jumlah dana JHT-nya, Jamsostek sedang mencari informasi terkait alamat dan keluarga bersangkutan, di antaranya melalui data perusahaan tempat peserta nonaktif tersebut bekerja. Jika perusahaannya sudah tutup atau tidak beroperasi lagi, maka Jamsostek akan menelusuri alamat terakhir dari data peserta. Ini akan dikoordinasi dengan RT/RW atau pihak kelurahan setempat. Alamat peserta nonaktif yang berhak mencairkan JHT juga akan ditelusuri melalui informasi dari perusahaan.

"Kepemilikan kartu kepesertaan ganda tersebut akibat belum adanya nomor identitas tunggal. Karena itu, Jamsostek melaksanakan herregistrasi (pendaftaran ulang) peserta bekerja sama dengan pihak perusahaan," ujar Hotbonar. (Andrian)

 

hari
0
0
0
jam
0
0
menit
0
0
detik
0
0
Temukan Kemudahan Di
BPJS Ketenagakerjaan